IPO Superbank Diprediksi Mampu Jadi Katalis Positif bagi Emiten Bank Digital


Poin Penting

  • IPO Superbank diprediksi jadi katalis positif karena menghadirkan benchmark baru yang dapat mengangkat sentimen dan valuasi emiten bank digital lain.
  • Persaingan bank digital makin ketat, dengan faktor penentu seperti cost of fund, kualitas kredit, ekosistem, NIM, dan kekuatan pendanaan.
  • Pergerakan saham bank digital bervariasi, dengan ARTO, AGRO, dan BBSI melemah, sementara BBHI justru melonjak seiring peningkatan kinerja keuangan.

Jakarta – Head of Research PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai Initial Public Offering (IPO) dari bank berbasis digital PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) dapat menjadi katalis positif untuk valuasi emiten bank digital lainnya.

“IPO Superbank jadi katalis segar karena membawa sentimen “benchmark baru” untuk valuasi bank digital. Sentimen ini bisa menarik minat trader ke bank digital lain yang punya ekosistem yang sama kuat,” ucap Wafi kepada Infobanknews dikutip, Minggu, 30 November 2025.

Baca juga: Intip Kinerja Terbaru Superbank yang Mau IPO pada Desember 2025

Meski mendatangkan sentimen positif, Wafi menilai kompetisi antaremiten bank digital akan semakin ketat, terutama dari sisi biaya dana (cost of fund), kualitas kredit, dan kedalaman ekosistem.

Short-term (jangka pendek) sektor ini bisa jadi rotation play. Mid-term (jangka menengah) cuma bank dengan skala ekonomi solid yang bertahan,” imbuhnya.

Sementara untuk tahun depan emiten bank digital dengan ekosistem yang solid masih akan menarik, namun bank digital dengan buku kredit atau Average Revenue Per User (ARPU) yang rendah akan mengalami tantangan.

“Jadi lebih baik fokus ke bank yg punya pipeline pendanaan kuat, NIM (Net Interest Margin) stabil, CASA tumbuh, dan punya captive user ecosystem,” ujar Wavi.

Baca juga: Superbank Bakal IPO Bulan Depan, Incar Dana Rp3,06 Triliun

Adapun, pergerakan saham beberapa emiten bank digital, seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO), PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) mengalami pergerakan yang bervariasi secara year-to-date (ytd).

Bank Jago (ARTO)

Harga saham ARTO tercatat turun 16,46 persen ytd ke posisi Rp2.030 per saham dari Rp2.430 atau berkurang 400 poin.

Meski demikian, ARTO masih mampu mencetak laba bersih sebesar Rp199 miliar di kuartal III-2025 atau tumbuh 132 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari Rp86 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga: Bank Jago (ARTO) Kantongi Laba Rp199 M per Kuartal III 2025, Melesat 132 Persen

Di samping itu, ARTO berhasil menyalurkan kredit senilai Rp23,5 triliun atau meningkat 36 persen dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp17,3 triliun, dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross yang berada di level 0,4 persen.

Bank Raya Indonesia (AGRO)

Lalu, untuk harga saham AGRO secara ytd tercatat turun tipis 0,86 persen menjadi Rp230 per saham dari harga pada awal tahun yang senilai Rp232 per saham.

AGRO sendiri mencatat total kredit yang telah disalurkan hingga kuartal III 2025 mencapai Rp7,27 triliun atau tumbuh 7,1 persen yoy.

Sehingga, hal itu mengerek laba bersih menjadi Rp41,97 miliar pada kuartal III 2025 atau naik 23,9 persen yoy dan memperbaiki rasio profitabilitas, terlihat dari Net Interest Margin (NIM) menjadi 5,00 persen dari sebelumnya 4,35 persen.

Krom Bank Indonesia (BBSI)

Sementara itu, BBSI mencatat penurunan harga saham secara ytd sebanyak 5,00 persen atau berkurang 210 poin menjadi ke posisi Rp3.990 per saham dari Rp4.200 per saham.

Meski begitu, kinerja keuangan BBSI per September 2025 masih tercatat positif dengan pertumbuhan laba bersih sebanyak 17,76 persen menjadi Rp126 miliar dari Rp107 miliar.

Lalu kredit yang disalurkan melonjak dari Rp3,25 triliun menjadi Rp7,26 triliun pada periode yang sama.

Allo Bank Indonesia (BBHI)

Berbeda arah, harga saham BBHI malah melonjak hingga 114,29 persen secara ytd menjadi senilai Rp1.500 per saham dari harga pada perdagangan awal tahun sebesar Rp700 per saham.

Hal itu juga sejalan dengan kinerja BBHI per kuartal III 2025 yang tumbuh 25,41 persen yoy menjadi Rp380 miliar dari Rp303 miliar.

BBHI menyalurkan kredit hingga Rp8,33 triliun atau tumbuh 14,98 persen dari Rp7,24 triliun. (*)

Editor: Yulian Saputra



Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top